PEMERIKSAAN SHIGELLA
Mata kuliah : PMM-A
Dosen : Khiki
Purnawati Kasim,
S.ST.,
M.Kes
LAPORAN
PEMERIKSAAN
SHIGELLA
OLEH :
ANNISA DWI NIRMALA NIRWAN
PO 71.4.221.15.1.006
II. A
D.IV
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN
KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI D.IV
2017
Berdasarkan hasil dan analisa hasil
dari praktikum pemeriksaan Shigella pada makanan dan minuman dapat disimpulkan
bahwa sampel yang diperiksa aman atau layak dikonsumsi. Hal tersebut didasarkan
pada PERMENKES RI NO.1096 Tahun 2011 Tentang Hygiene Sanitasi Jasaboga bahwa
pada pangan tidak diperbolehkan mengandung bakteri. Termasuk Shigella.
A.
Dasar Teori
Menurut
Undang-Undang No.7 tahun 1996, keamanan pangan didefinisikan sebagai suatu
kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan
cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan
kesehatan manusia.
Makanan
yang aman adalah yang tidak tercemar, tidak mengandung mikroorganisme atau
bakteri dan bahan kimia berbahaya, telah diolah dengan tata cara yang benar
sehingga sifat dan zat gizinya tidak rusak, serta tidak bertentangan dengan
kesehatan manusia. Karena itu, kualitas makanan, baik secara bakteriologi,
kimia, dan fisik, harus selalu diperhatikan. Kualitas dari produk pangan untuk
konsumsi manusia pada dasarnya dipengaruhi oleh mikroorganisme.
Shigella
merupakan bakteri patogen di usus manusia dan primata penyebab shigellosis
(disentri basiler). Makanan yang sering terkontaminasi Shigella adalah salad,
sayuran segar (mentah), susu dan produk susu, serta air yang terkontaminasi.
Sayuran
segar yang tumbuh pada tanah terpolusi dapat menjadi faktor penyebab penyakit,
seperti disentri basiler atau shigellosis yang disebabkan oleh Shigella.
Menurut USFDA (1999), diperkirakan 300.000 kasus shigellosis terjadi di Amerika
Serikat setiap tahun.
B.
Tujuan
Agar
mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan Shigella
C.
Specimen dan Bahan
1.
Specimen
·
Faeces
·
Makanan
·
Minuman
·
Air
2.
Bahan
·
SS agar
·
EMB Agar
·
MC Agar
·
Endo Agar
·
TSIA
D. Prosedur
Kerja
Hari
I
Specimen ditanam pada media SS Agar,
EMB Agar, MC Agar dan Endo Agar setelah itu dimasukkan kedalam incubator dengan
suhu 37˚C selama 1 x 24jam.
Hari
II
Koloni yang tersangka dimedia :
SS Agar : kecil-kecil, tidak berwarna, jernih, smooth
EMB Agar : sedang, tidak berwarna, jernih, smooth, keping
MC Agar : sedang, tidak berwarna, jernih, smooth, keeping
Endo Agar : kecil-kecil, sedang, tidak berwarna rose, jernih,
smooth, keeping
Masing-masing koloni dari media
isolatie tersebut diatas ditanam pada media TSIA, SIM dan Sommon’s citrate,
kemudian dimasukkan ke incubator dengan suhu 37˚C selama 1 x 24jam.
Hari
III
Mengamati pertumbuhan koloni di
media TSIA, SIM dan Sommon’s citrate (S.C) dan dicocokkan dengan tabel.
No
|
Bacteri
|
TSIA
|
SIM
|
SC
|
||||
Lereng
|
Dasar
|
Gas
|
H2S
|
IND
|
MOT
|
|||
1.
|
Sh.
shigae
|
Merah
|
Kuning
|
-
|
-
|
-
|
Brown
|
Negatif
|
2.
|
Sh.
schmitz
|
Merah
|
Kuning
|
-
|
-
|
-
|
Brown
|
Negatif
|
3.
|
Sh.
Sonnei
|
Merah
|
Kuning
|
-
|
-
|
-
|
Brown
|
Negatif
|
4.
|
Sh.
Flexneri
|
Merah
|
Kuning
|
-
|
-
|
-
|
Brown
|
Negatif
|
5.
|
Sh.
boydi
|
Merah
|
Kuning
|
-
|
-
|
-
|
Brown
|
Negatif
|
Pertumbuhan yang sama dengan tabel
tersebut dikerjakan dengan slide agglutinasi dengan sera diagnostika. Kemudian dari
koloni TSIA baik yang tersangka glongan shigella maupun yang tidak tersangka,
ditanam pada media gula-gula dan agar-agarm kemudian dimasukkan ke incubator dengan
suhu 37˚C selama 1 x 24jam.
Hari
IV
Mengamati pertumbuhan pada media
gula-gula, dan kemudian dicocokkan dengan daftar media gula-gula.
E. Hasil
Berdasarkan
prakrikum pemeriksaan Salmonella yang
telah dilakukan pada sampel makanan “Bakso Bakar” dan sampel minuman “Es
Teler”. Diperoleh hasil yaitu :
Hari I = negative shigella pada sampel makanan dan minuman dengan menggunakan
media SS Agar
F. Analisa
Hasil
Berdasarkan hasil yang didapatkan dari
praktikum pemeriksaan Shigella pada makanan dan minuman yaitu negative
mengandung Shigella. Untuk sampel makanan yang diambil di jl. Banta-bantaeng
dan sampel minuman di jl. Wijaya Kusuma. Hal tersebut dikarenakan bahan baku
yang digunakan tidak terkontaminasi dengan bakteri. Penyimpanan bahan makanan
pada lokasi pengambilan sampel menggunakan lemari kaca dan untuk wadah bahan
lainnya menggunakan wadah yang tertutup.
G. Kesimpulan

Komentar
Posting Komentar